SUBANG – Pondok Pesantren At-Tawazun menggelar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada Ahad, 13 September 2026, bertempat di Aula Pondok Pesantren At-Tawazun. Kegiatan yang dimulai pukul 07.30 WIB tersebut menjadi momentum untuk menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus memperkuat keimanan, akhlak, dan semangat menuntut ilmu bagi para santri.
Peringatan tersebut menghadirkan sejumlah ulama dan tokoh sebagai pengisi kegiatan, di antaranya Dr. KH. Musyfiq Amrullah, Lc., M.Si., Pimpinan Pondok Pesantren At-Tawazun; Prof. Dr. KH. Manarul Hidayat, M.A., Pimpinan Pondok Pesantren Al Mahbubiyah Cilandak dan Almanar Azhari Depok; KH. Aji Fauziana Ridwan, M.Pd., Dai MNCTV sekaligus Wakil Rektor III Universitas Mandiri; serta Ustadz Halimi, M.Ag., dari Ifqoh Jakarta Utara.
Dalam sambutannya, Dr. KH. Musyfiq Amrullah, Lc., M.Si., menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT karena masih diberikan kesempatan untuk berkumpul dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Menurut Abi Musyfiq, meskipun pelaksanaan Maulid Nabi tidak bertepatan persis dengan tanggal kelahiran Rasulullah SAW, hal tersebut tidak mengurangi makna dan nilai peringatan. Baginya, tidak ada kata terlambat untuk mengenang, menghormati, dan memuliakan Rasulullah SAW yang memiliki jasa besar bagi kehidupan umat manusia.
“Saya bersyukur kepada Allah SWT karena kita masih diberikan kesempatan untuk berkumpul bersama dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Meskipun sedikit melewati tanggalnya, bagi kami tidak ada kata terlambat untuk menghormati dan mengenang seorang manusia yang sangat berjasa bagi dunia dan umat manusia,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW merupakan sosok yang memiliki kemuliaan luar biasa. Rasulullah SAW bukan sekadar manusia yang dimuliakan oleh orang lain, tetapi memang merupakan manusia yang mulia dan kemuliaannya tidak akan pernah pudar.
“Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang sangat mulia. Beliau bukan hanya dimuliakan, tetapi memang merupakan manusia yang mulia. Ada orang yang dimuliakan pada suatu waktu, tetapi belum tentu kemuliaannya tetap terjaga pada waktu berikutnya. Namun Rasulullah SAW memiliki kemuliaan yang tidak akan pernah pudar,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Rasulullah SAW memiliki jasa yang sangat besar bagi umat manusia. Melalui perjuangan dan dakwah beliau, manusia memperoleh petunjuk serta mengenal Islam sebagai jalan kehidupan yang membawa kebaikan.
Karena itu, sebagai umat Nabi Muhammad SAW, kaum muslimin sudah sepatutnya menumbuhkan rasa cinta, penghormatan, dan keteladanan kepada Rasulullah SAW. Peringatan Maulid tidak cukup hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi harus menjadi sarana untuk kembali mengenal perjuangan, kepribadian, dan akhlak Rasulullah SAW.
Abi Musyfiq juga menyampaikan bahwa salah satu gambaran kemuliaan Rasulullah SAW dapat dilihat dari cara Allah SWT menyapa para nabi dalam Al-Qur’an.
“Di dalam Al-Qur’an, kita dapat menemukan nabi-nabi lain dipanggil dengan namanya, seperti Nabi Adam AS, Nabi Musa AS, Nabi Isa AS, Nabi Ibrahim AS, Nabi Zakaria AS, dan Nabi Yahya AS. Hal tersebut menjadi bagian dari gambaran bagaimana Allah SWT memberikan keistimewaan kepada Rasulullah SAW,” jelasnya.
Ia berharap peringatan tersebut semakin meningkatkan kecintaan seluruh keluarga besar pesantren kepada Rasulullah SAW dan mendorong para santri untuk menerapkan nilai-nilai akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari.
“Semoga melalui peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini, kecintaan kita kepada Rasulullah semakin bertambah. Yang terpenting bukan hanya memperingati kelahirannya, tetapi bagaimana kita mampu memahami perjuangan beliau dan mengamalkan ajaran serta akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari,” pungkas Abi Musyfiq.
Ulama Dorong Santri Bersyukur dan Serius Menuntut Ilmu
Sementara itu, dalam tausiyahnya, Prof. Dr. KH. Manarul Hidayat, M.A., mengajak para santri untuk senantiasa bersyukur kepada Allah SWT atas kesempatan menuntut ilmu di pesantren.
Menurutnya, menjadi santri merupakan nikmat sekaligus kesempatan berharga yang tidak boleh disia-siakan. Kesempatan tersebut juga tidak terlepas dari perjuangan dan pengorbanan orang tua yang telah memberikan kepercayaan kepada anak-anaknya untuk belajar dan menimba ilmu.
“Santri harus senantiasa bersyukur kepada Allah SWT. Bersyukurlah karena kalian diberikan kesempatan untuk menuntut ilmu di pondok pesantren. Jangan lupa pula berterima kasih kepada kedua orang tua yang telah memberikan kepercayaan kepada kalian untuk mondok di Pondok Pesantren At-Tawazun,” tuturnya.
KH. Manarul Hidayat mengingatkan agar para santri memanfaatkan masa pendidikan dengan sungguh-sungguh. Pesantren, menurutnya, bukan hanya tempat memperoleh ilmu agama, tetapi juga lingkungan untuk membentuk karakter, kepribadian, moralitas, dan keimanan.
“Coba renungkan, kalau tidak mondok, mau menjadi seperti apa kita? Di pesantren, kalian tidak hanya belajar satu bidang ilmu. Kalian mendapatkan pendidikan agama, ilmu pengetahuan umum, serta pembinaan akhlak dan kepribadian,” ujarnya.
Ia mengapresiasi pola pendidikan yang memadukan berbagai disiplin ilmu dengan pembinaan moral dan keimanan berlandaskan ajaran Nabi Muhammad SAW.
“Di At-Tawazun, para santri dibekali dengan berbagai ilmu. Namun yang tidak kalah penting adalah bagaimana membangun moralitas dan keimanan sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW. Ilmu harus melahirkan akhlak, dan akhlak harus menjadi bagian dari kehidupan seorang santri,” jelasnya.
Menurutnya, memiliki anak yang menjadi santri merupakan kebanggaan sekaligus kemuliaan bagi orang tua. Seorang santri diharapkan tumbuh menjadi pribadi berilmu, berakhlak baik, menghormati orang tua dan guru, serta mampu meneruskan perjuangan agama.
“Betapa mulianya memiliki anak seorang santri. Anak yang belajar di pesantren diharapkan memiliki akhlak yang baik kepada kedua orang tuanya, menghormati guru, serta tumbuh menjadi generasi yang mampu meneruskan perjuangan agama,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa pendidikan pesantren harus mampu melahirkan generasi yang memiliki keseimbangan antara ilmu agama, ilmu pengetahuan umum, dan akhlakul karimah.
“Anak yang mondok harus menjadi anak yang pintar ilmu agama, memahami ilmu umum, dan yang paling penting memiliki akhlak yang baik. Ketika ilmu, iman, dan akhlak berjalan bersama, insyaAllah akan lahir generasi penerus yang mampu memberikan manfaat bagi agama, bangsa, dan masyarakat,” pungkasnya.
Perpaduan Ilmu Agama, Sains, dan Teknologi
Pesan serupa disampaikan KH. Aji Fauziana Ridwan, M.Pd., Dai MNCTV sekaligus Wakil Rektor III Universitas Mandiri. Ia mengapresiasi sistem pendidikan yang dikembangkan At-Tawazun karena memberikan ruang bagi penguatan ilmu agama sekaligus ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi.
Menurutnya, para santri patut bersyukur karena memperoleh kesempatan belajar dalam lingkungan yang mempersiapkan mereka menghadapi tantangan kehidupan dan perkembangan zaman.
“Beruntung sekali adinda-adinda santri dapat belajar dan menuntut ilmu di Pondok Pesantren At-Tawazun. Di sini, pendidikan tidak hanya berorientasi pada urusan agama, tetapi juga memberikan perhatian terhadap ilmu-ilmu yang berkaitan dengan kehidupan dunia,” ungkapnya.
Ia menilai keseimbangan antara ilmu agama, ilmu pengetahuan, teknologi, dan sains merupakan bagian penting dalam mempersiapkan generasi masa depan.
“Apa buktinya? Pondok Pesantren At-Tawazun juga memberikan perhatian terhadap perkembangan teknologi dan sains. Ini menunjukkan bahwa pendidikan pesantren dapat berjalan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan zaman,” ujarnya.
Menurutnya, kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan harus berjalan beriringan dengan penguatan iman dan akhlak. Dengan demikian, ilmu yang dimiliki generasi muda dapat diarahkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Santri harus memiliki bekal ilmu agama yang kuat, tetapi juga tidak boleh tertinggal dalam ilmu pengetahuan, teknologi, dan sains. Ketika semuanya berjalan secara seimbang, insyaAllah akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak dan tanggung jawab,” pesannya.
Ia pun mengajak para santri untuk memanfaatkan masa pendidikan dengan sebaik-baiknya, memperkuat keilmuan, membangun karakter, memperbaiki akhlak, serta mempersiapkan diri menghadapi tantangan kehidupan.
“Belajarlah dengan sungguh-sungguh dan manfaatkan kesempatan yang ada. Jadilah santri yang mampu menjaga nilai-nilai agama, sekaligus siap menghadapi perkembangan zaman. Ilmu agama dan ilmu dunia bukan untuk dipertentangkan, tetapi harus berjalan bersama demi melahirkan generasi yang unggul,” pungkasnya.
Dihadiri Berbagai Unsur dan Tokoh Masyarakat
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut turut dihadiri oleh jajaran pejabat negara dan unsur Forkopimda Kabupaten Subang, Danlanud Suryadarma atau yang mewakili, Kodim 0605 Subang, jajaran Pemerintah Kabupaten Subang, pejabat instansi vertikal, para kepala dinas, pimpinan BUMD, serta perwakilan Kementerian Agama dan Kementerian Haji dan Umrah.
Hadir pula para ulama sepuh, Rois Syuriah, pimpinan dan pengurus MUI, PWNU, PCNU, GP Ansor, para pimpinan dan pengasuh pondok pesantren, pimpinan FORMADA, serta tokoh agama dan masyarakat Kabupaten Subang. Selain itu, hadir para dai dan qori, jajaran BAZNAS Kabupaten Subang, pimpinan mitra perbankan, pelaku usaha, pengurus DKM masjid se-Kabupaten Subang, Forkopimcam Kalijati, pemerintah desa, serta para pengurus RT dan RW.
Dari keluarga besar pesantren, hadir jajaran Pimpinan Yayasan, Pembina, Pengawas, keluarga Wakif Awwal, Ketua Yayasan At-Tawazun Drs. H. M. Zainuddin, Wakil Ketua Yayasan Ir. H. Ujang Tjarwana, para dewan asatidz dan asatidzah, orang tua/wali santri, serta seluruh keluarga besar Pondok Pesantren At-Tawazun.
Kehadiran berbagai unsur tersebut semakin menambah khidmat dan semarak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus mempererat silaturahmi dan ukhuwah antara ulama, pemerintah, tokoh masyarakat, dunia pendidikan, mitra, dan masyarakat.
Setelah seluruh rangkaian kegiatan dan tausiyah selesai, acara kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Pimpinan Pondok Pesantren Nurullah, Ciseeng, KH. Mashuri Qurtubi, M.A. Doa bersama tersebut menjadi penutup rangkaian kegiatan dengan harapan seluruh ikhtiar pendidikan, dakwah, dan pembinaan generasi muda senantiasa mendapatkan keberkahan dan ridha Allah SWT.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum untuk semakin mencintai Rasulullah SAW, meneladani akhlaknya, serta mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Dengan perpaduan ilmu agama, ilmu pengetahuan, teknologi, sains, keimanan, dan akhlakul karimah, para santri diharapkan mampu tumbuh menjadi generasi yang religius, cerdas, berkarakter, mampu mengikuti perkembangan zaman, serta memberikan manfaat bagi agama, bangsa, dan masyarakat

