Penuh Haru! Kisah Restu Abah KH. Syamsudin di Balik Berdirinya Pesantren At-Tawazun

Peringatan Haul ke-16 Abah KH. Syamsudin bin KH. Abdurrahman digelar pada 17 Ramadhan 1447 H bertepatan dengan tanggal 7 Maret 2026 di Auditorium Pondok Pesantren At-Tawazun mulai pukul 16.00 WIB. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan peringatan 100 hari wafatnya Ust. Iqbal Hanafiyah bin Solihin serta penutupan kegiatan Ramadhan 1447 H di lingkungan pesantren.

Acara diawali dengan pembacaan Surat Yasin yang dipimpin oleh Ust. Nahzil Qowim, M.Ag., kemudian dilanjutkan dengan pembacaan tawasul dan tahlil yang dipimpin oleh Gus Luthfi Al-Maghriby, pimpinan Pondok Pesantren Al-Fattah Kalijati.

Memasuki acara inti, sambutan disampaikan oleh pimpinan Pondok Pesantren At-Tawazun, Dr. KH. Musyfiq Amrullah, Lc., M.Si. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan rasa terima kasih kepada para hadirin dan tamu undangan yang telah berkenan hadir serta turut mendoakan almarhum Abah KH. Syamsudin.

Beliau juga menyampaikan apresiasi kepada para santri At-Tawazun yang telah melaksanakan khataman Al-Qur’an secara maraton di makam Abah KH. Syamsudin sebagai bentuk penghormatan dan doa bagi almarhum.

Dalam kesempatan tersebut, Abina KH. Musyfiq Amrullah juga membagikan kenangan dan kisah teladan dari almarhum Abah KH. Syamsudin. Ia mengenang bagaimana dahulu Abah pernah menawarkan dirinya untuk menjadi pegawai negeri karena aktivitasnya sebagai pengajar. Namun saat itu ia justru memohon restu kepada Abah untuk mendirikan sebuah pondok pesantren.

Mendengar keinginan tersebut, Abah memeluknya sambil memberikan doa dan restu agar niat baik tersebut dikabulkan oleh Allah SWT. Tidak lama kemudian, datang tawaran tanah wakaf dari H. Uzair Chuzairi yang kemudian menjadi lokasi berdirinya Pondok Pesantren At-Tawazun. Selain memberikan dukungan moral, Abah KH. Syamsudin juga turut membantu secara materi untuk pembangunan dan pengembangan pesantren tersebut.

Sepanjang hidupnya, Abah KH. Syamsudin dikenal sebagai sosok yang mendedikasikan diri untuk mencerdaskan anak bangsa melalui pendidikan dan dakwah Islam. Semangat tersebut kemudian diwarisi oleh putra-putrinya, cucu, hingga cicitnya yang kini banyak berkiprah sebagai guru dan pendakwah.

Dengan penuh haru, Abina KH. Musyfiq Amrullah menyampaikan rasa terima kasih kepada kedua orang tuanya, Abah KH. Syamsudin dan Ibu Ende, yang telah mendidik dan membesarkan anak-anaknya dalam lingkungan pendidikan agama dan disiplin yang kuat.

Selanjutnya acara diisi dengan mauidzah hasanah yang disampaikan oleh KH. Dadan E. Hamdani,S.Ag, S.T, M.M.Pd., Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Subang. Dalam ceramahnya, beliau menyampaikan hadis yang menjelaskan bahwa ridha Allah terletak pada ridha kedua orang tua.

Menurutnya, keberhasilan yang diraih oleh KH. Musyfiq Amrullah dan keluarga besar saat ini tidak terlepas dari doa dan ridha orang tua. Ia juga mengingatkan pentingnya menghormati serta mendoakan orang tua, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.

“Ridha Allah ada pada ridha orang tua. Ketika kita selalu menghormati, mendoakan, dan berbakti kepada orang tua, maka di situlah keberkahan hidup akan Allah berikan,” ujarnya.

Acara tersebut dihadiri oleh keluarga besar Bani Syarad, pengurus Yayasan At-Tawazun, dewan guru, para santri, serta tamu undangan. Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama dan buka puasa bersama dalam suasana penuh khidmat dan kebersamaan.

Baca Juga :   Sidang Pleno I : Pengesahan Tata Tertib Rapat