Angkat Budaya Yogyakarta, Porseni Ke-21 At-Tawazun Tanamkan Nilai Akhlak, Nasionalisme, dan Cinta Budaya Nusantara

SUBANG – Upacara Pembukaan Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Ke-21 Pondok Pesantren At-Tawazun yang digelar di Aula Pondok Pesantren At-Tawazun, Kalijati, pada Sabtu (18/07/2026) berlangsung meriah dengan mengusung tema budaya Daerah Istimewa Yogyakarta. Mengangkat kekayaan budaya Nusantara, pembukaan Porseni tahun ini tidak hanya menghadirkan penampilan seni yang memukau, tetapi juga sarat dengan pesan pendidikan karakter, nasionalisme, dan kecintaan terhadap budaya bangsa.

Pembina Porseni Ke-21 Pondok Pesantren At-Tawazun, Ust. Asep Diana, yang akrab disapa Ust. Indro, menjelaskan bahwa pemilihan budaya Yogyakarta bukan tanpa alasan. Menurutnya, Pondok Pesantren At-Tawazun memiliki komitmen untuk mencetak santri yang tidak hanya unggul dalam ilmu agama (tafaqquh fiddin), tetapi juga memiliki wawasan kebangsaan yang kuat.

“Yogyakarta kami pilih karena merupakan salah satu pusat peradaban dan kebudayaan Nusantara yang kaya akan nilai-nilai luhur, etika, dan keindahan seni. Melalui Porseni Ke-21 ini, kami ingin membuka cakrawala para santri bahwa mencintai Indonesia dimulai dengan mengenal dan menghargai kekayaan budayanya. Salah satunya melalui keagungan budaya Yogyakarta,” ujar Ust. Indro.

Ia menjelaskan, budaya Yogyakarta memiliki filosofi Hamemayu Hayuning Bawana, yakni komitmen untuk menjaga, memperindah, dan melestarikan kehidupan. Filosofi tersebut, menurutnya, sejalan dengan ajaran Islam yang menempatkan manusia sebagai khalifah fil ardh, yakni pemimpin yang bertugas menjaga dan memakmurkan bumi.

“Olahraga dan seni yang ditampilkan dalam Porseni bukan sekadar mengejar kemenangan. Lebih dari itu, kami ingin menanamkan kepada para santri bahwa setiap kemampuan yang dimiliki harus menjadi jalan untuk menghadirkan kemaslahatan, kedamaian, dan keindahan bagi lingkungan sekitar,” katanya.

Ust. Indro menegaskan bahwa Porseni merupakan media pendidikan karakter yang efektif. Melalui kegiatan tersebut, santri tidak hanya diasah kemampuan fisik dan kreativitasnya, tetapi juga diajak mengenal jati diri bangsa.

Baca Juga :   Belajar dari Sejarah Nabi, Santri At-Tawazun Ikuti Bedah Buku Sirah Nabawiyah

“Santri adalah masa depan Indonesia. Jika generasi muda tidak mengenal budayanya sendiri, kita akan kehilangan identitas nasional. Karena itu, Porseni menjadi media edukasi agar para santri tumbuh menjadi pribadi yang mencintai tanah air, bangga terhadap budayanya, dan tidak mudah tergerus oleh pengaruh negatif globalisasi,” tuturnya.

Menurutnya, nilai-nilai budaya Yogyakarta memiliki banyak kesamaan dengan pendidikan karakter yang diterapkan di lingkungan pesantren. Filosofi unggah-ungguh atau tata krama, andhap asor (rendah hati), semangat gotong royong, serta golong gilig yang bermakna persatuan tekad menjadi nilai-nilai yang sangat relevan dengan kehidupan santri.

“Di pesantren kami diajarkan untuk menghormati guru, menghargai sesama, hidup sederhana, serta membiasakan akhlakul karimah. Nilai-nilai tersebut juga tercermin dalam budaya Yogyakarta sehingga keduanya saling menguatkan dalam membentuk karakter santri,” jelasnya.

Ia menambahkan, perpaduan antara nilai-nilai kepesantrenan dan budaya Nusantara akan melahirkan generasi yang religius sekaligus nasionalis.

“Nilai kepesantrenan menjadi fondasi hubungan manusia dengan Allah SWT (hablum minallah), sedangkan budaya mengajarkan etika dalam membangun hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas). Ketika keduanya berpadu, akan lahir generasi muda yang taat beragama sekaligus mencintai bangsa dan negaranya,” ungkapnya.

Lebih jauh, Ust. Indro mengatakan bahwa keberagaman budaya merupakan anugerah yang harus dijaga bersama. Meski berada di tanah Sunda, At-Tawazun sengaja menghadirkan budaya Yogyakarta sebagai bentuk penghormatan terhadap keberagaman Indonesia sekaligus implementasi nilai tasamuh (toleransi) dan tawazun (keseimbangan).

“Kami ingin para santri memahami bahwa budaya adalah perekat persatuan bangsa, bukan pemecah belah. Keberagaman adalah kekuatan yang harus terus dirawat,” katanya.

Ke depan, lanjut Ust. Indro, Pondok Pesantren At-Tawazun berkomitmen menjadikan tema budaya Nusantara sebagai identitas dalam setiap penyelenggaraan Porseni.

Baca Juga :   Santri At-Tawazun Jalani Ujian Praktek: Bentuk Generasi Terampil dan Berakhlak

“InsyaAllah, setiap tahun kami akan menghadirkan budaya yang berbeda. Tahun ini Yogyakarta, mudah-mudahan tahun berikutnya kita dapat mengenal budaya Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua, hingga daerah-daerah lainnya. Kami ingin menghadirkan miniatur Indonesia di lingkungan pesantren,” ujarnya.

Ia juga memberikan apresiasi kepada seluruh santri yang telah mempersiapkan penampilan budaya dengan penuh kesungguhan. Mulai dari mempelajari gerakan tari, memahami irama musik tradisional, hingga mengenakan pakaian adat sesuai dengan pakem budaya Yogyakarta.

“Saya bangga melihat semangat para santri. Walaupun harus mempelajari budaya yang berasal dari daerah lain, mereka tetap antusias, bekerja sama, dan berlatih dengan sungguh-sungguh. Itu menunjukkan semangat belajar dan dedikasi yang luar biasa,” tuturnya.

Menutup keterangannya, Ust. Indro berharap semangat yang dibangun melalui pembukaan Porseni Ke-21 dapat terus hidup selama seluruh rangkaian perlombaan berlangsung.

“Semoga nilai-nilai luhur budaya Yogyakarta seperti kebersamaan, kesantunan, kerja keras, dan sportivitas tidak hanya terlihat saat pembukaan, tetapi juga terus dipraktikkan selama pertandingan hingga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari para santri. Selamat bertanding, tunjukkan kemampuan terbaik, junjung tinggi sportivitas, dan jagalah selalu nama baik Pondok Pesantren At-Tawazun,” pungkasnya.

Melalui tema budaya Yogyakarta, Porseni Ke-21 Pondok Pesantren At-Tawazun tidak hanya menjadi ajang kompetisi olahraga dan seni, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran yang memadukan nilai-nilai Islam, karakter, budaya, dan nasionalisme. Sejalan dengan visi pesantren, kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan generasi Qurani yang unggul, berprestasi, berakhlakul karimah, serta memiliki kecintaan yang kuat terhadap bangsa dan budaya Indonesia.